right_side

Terkumpul

Tampilkan postingan dengan label Oretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oretan. Tampilkan semua postingan
In:

Donat Bantat Tawuran dan keluarga

Olala........ shiny sunshine, fresh winding morning. yup hari nan cerah tuk berekreasi bersama seluruh keluarga, hari yang tepat tuk membawa canda tawa bersama. namun seluruh keluarga hari ini memilih tuk ada didalam rumah setelah sebelumnya memeprsiapkan semua rencana dan logistik.

yah hari minggu ini adalah waktunya memanfaatkan dapur sebagai wahana berkreasi. istri dan anak-anak sudah sepakat bahwa besok harus jadi membuat donat, benar-benar kue kecil kesukaan keluarga. karena di kota ini tidak ada donat waralaba yg terkenal, seperti Dunkin atau J.co atau sejenisnya. maka donat buatan kami bisa jadi adalah produk tanpa pesaing yang berarti. karena nikmat dan bantatnya yang membuat donut terkenal itu tak sanggup melampauinya.

mungkin rahasia bantatnya donat kami adalah karena ada 4 pasang tangan yang membuat adonannya secara bersamaan sehingga menjadi donat terkeras dan terenak yang pernah dipoduksi secara massal.

setelah minggu kemarin kami mempratekkan gurame bakar ala cheff ayahe fidza yang berwarna hitam namun kurang matang. kali ini kami membuat inovasi dengan donut bantat tawuran.

boleh nih berbagi resep? kami bereksperimen lho.

DONAT BANTAT TAWURAN

bahan :

500 gr kentang
1000 gr tepung terigu
200 gr gula putih
4 butir telur
1 sendok teh vanilli
1 bungkus fermipan
250 gr margarin
susu cair/bubuk menurut selera
dan minyak tuk menggoreng secukupnya.

cara membuat :

1. kukus kentang hingga matang kemudian hancurkan, ingat menghancurkannya harus bersama dengan keluarga karena kalau tidak namanya tidak akan jadi TAWURAN.

hebatnya lagi saya menghancurkannya pake batu buat menggiling bumbu, istri pake gelas, fidza pake gagangnya pisau dan romiz pake tangan dan gigi. ini baru tawuran.

2. haluskan gula, kali ini kami tak tega mengeroyok gula-gula putih itu. karena sikecil selalu menggilingnya dengan gigi, maka kami putuskan menggunakan blender.

3. cairkan margarin.

4. masukkan kentang yang telah dihaluskan, telur baik putih dan kuningnya, gula halus, vanilli, fermipan, margarin cair, susu dan tepung terigu. aduk hingga rata hingga adonan tidak lengket di tangan.

inilah kenapa donat kami menjadi bantat karena adonan kami buat berempat dengan 4 pasang tangan dengan emosi membara tuk menyaingi Dunkin dan J.co. mungkin karena terlalu banyak tenaga sehingga donat itu malu tuk mengembang.

5. bentuk donat menjadi bentuk yang tak biasanya karena kami memiliki ciri khas. ada yang berbentuk tak beraturan dan ada yang berbentuk tak berupa.pada intinya semua tak ada bentuk donat sama sekali.

6. hingga kami harus menggorengnya dalam wajan dengan kondisi yang menyedihkan.

Namun setelah donat itu singgah di lidah sepertinya bila harus disandingkan dengan donat bermerk kami tetap masih memilih DONAT BANTAT TAWURAN kami.

entah saya harus berkata apa, sebenarnya ketika pertama kali menulis cerita ini ada makna yang ingin saya sampaikan tentang kebersamaan keluarga dalam keharmonisan. namun kegelian saya dalam membuat donat tadi malah membuats aya menjadi tertarik tuk memberikan resep coba-coba itu.

atau saya terlalu sering berkunjung ke blognya ibu-ibu yang memajang resep masakan lezat tiap harinya. setidaknya anda bisa membayangkan keharmonisan ketika proses donat itu dibuat bukan?



Add to Technorati Favorites

In:

Kepastian itu relatifitas yang diberi batasan


“Semua yang ada didunia ini relative, hanya Tuhan lah yang pasti adanya.” Sebuah pernyataan yang tepat setidaknya dalam sisi kemanusian quote itu sangatlah presisi. Tuhan jelas tidak diragukan lagi akan keberadaan dan wujudNYA. kepastian hakiki hanyalah milikNya, tiada yang sanggup merubah itu kecuali pemahaman Nietzhe yang terlalu sembrono yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati, yang pada akhirnya Nietzhe sendiri menjadi penghuni Rumah Sakit jiwa. Memang pemikiran yang tak sehat pasti keluar dari kepala yang tak waras pula.


Tidak, bukan maksud untuk membahas kepastian Tuhan karena itu sangatlah mungkin berada diluar pemahaman pembuat artikel. Yang menjadi pokok bahasan adalah kerelatifan dunia ini. Einstein membuat rumus yang memenangkan Nobel hanya tuk menuliskan rumus pendek untuk penemuan yang sangat besar. Cukup 3 karakter tuk melambangkan relatifitas dunia ini, Mc2 namun apakah itu sudah mewakili? Dalam pemahaman Einstein dan pengikutnya mungkin iya. Dalam pemahaman penulis ternyata masih sangat banyak factor pendukung dan penyangkalnya.


Bila dunia relative benar adanya karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 1 detik ke depan. Bila manusia adalah relative itu juga sangat pasti karena manusia pun memiliki setiap pemahaman yang antara individu jelas berbeda. Bila sifat adalah relative itulah hal paling mutlak yang mungkin bias dipahami manusia. Bila ilmu adalah relative maka siapakah yang paling pintar dan yang paling goblog didunia ini?


Katakanlah bila anda mencintai seseorang adalah hal yang relative apakah mungkin cinta anda sama besar dengan rentang kerelatifan itu sendiri? Mungkin anda hanya sedang membencinya dalam kadar berlebihan. Mungkin anda hanya sekadar menyukainya dalam batas kedewasaan. Bila setiap orang mengatakan keindahan itu relative maka saya berani mengatakan bahwa anda sedang melihat indahnya relatifitas. Bila setiap hukum mengatakan bahwa keadilan adalah sebuah kerelatifan maka saya berani mengatakan bahwa hukum itu sendiri adalah perkara yang paling nisbi didunia ini.


Maka benar bila statemen diatas diucapkan lagi bahwa tiada yang mutlak didunia ini?

Lalu bagaimana sebuah Negara bisa terbentuk atas dasar kesamaan kehendak?

Maka bagaimana bias sebuah sumpah bsia terucap atas kesamaan kesepakatan?

Lantas apakah salah bila suatu Negara memutuskan memberikan lambang yang sama atas ideologinya?

Bagaimanakah mungkin bila semua unsure didunia ini relative namun sebuah persamaan bisa terbentuk?


Dalam sebuah kerelatifitasan pasti ada patokan yang dijadikan kesepakatan umum. Maka disinilah rentang relatiftas itu terbatasi. Semakin hari semakin menyempit. Memberikan makna sesungguhnya akan definisi relatifitas yang kemudian bermuara pada kepastian Tuhan sebagai kebalikan dari kenisbian.



Add to Technorati Favorites

In:

see the unseen

Bapak filsuf dunia aristoteles pernah mengatakan”tanpa ide dunia ini akan sunyi” atau yang kata bapak sejarah dunia Herodotus pernah mengemukakan statement, dunia ide hanyalah bayangan dari dunia sesungguhnya yang tidak pernah kita temui sebelumnya.
Namun ada satu pernyataan yang menarik yang bisa ditemui diotak orang gila. Ada sesuatu didunia ini yang mampu dilihat orang lain yang tidak berusaha melihatnya. Dan yang lebih fantastisnya. Disitulah kebenaran itu terletak.
Apa yang tidak ingin dilihat orang justru itulah objek sesungguhnya, dan hanya orang-orang tertentu yang berusaha ingin melihatnya yang dapat melihatnya dengan jelas tanpa tirai.tak banyak orang yang mau berusaha melihat apa yang tak terlihat kebanyakan orang ini. Kejujuran yang tampak samar namun jelas.
Malah lebih banyak yang berusaha acuh dan menganggap dirinya gila padahal itulah kebenaran yang tampak. Acuh terhadap kejujuran acuh terhadap sesuatu yang menurutnya keburukan. Sayang sekali, orang-orang ini telah bermimpi ketika terjaga. Hanya bisa melihat samar padahal semua tersingkap dengan jelas. Bagai melihat objek didalam kabut. Padahal ada angin deras yang menghapus kabut dari matanya.
Ketika berjalan di trotoar tak jarang ada tangan menengadah mengetuk keikhlasan berbagi, seuatu yang akan membuka mata kita betapa dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang lebaih berhak atas harta kita. Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kesempatan apalagi keberuntungan. Ini tentang empati dan simpati, ini tentang keikhlasan dan pengharapan. Ini tentang melihat apa yang tidak ingin dilihat oleh orang lain.
Bukan mata yang bekerja namun hati!

Add to Technorati Favorites

In:

Sobat, inilah warna negeriku!

Merah bagi sebagian orang adalah melambangkan keberanian yang memuncak, merah adalah lambang semangat yang berkobar darah yang bergolak dan puncak dari kemauan yang besar, namun dinegeri in merah adalah kemarahan, merah adalah pemberontakan. Bagi rakyat dinegeri ini merah mungkin lebih tepat sebagai lambang anarchi, kebencian tanpa dasar kemarahan tanpa tanggung jawab. Benarkah? Bukankah sejarah selalu terukir diatas cerita? Dan cerita yang tertulis adalah pertumpahan darah, penggerogotan pengkhianatan dan mementingkan diri sendiri.


Tiada yang tersisa dari peradaban ini selain ketamakan dan keserakahan.pembantaian dan pembunuhan massal sepertinya menjadi pemandangan umum bagi mata hati, bagaimana yang kuat memangsa yang lemah, bagaimana yang kaya menginjak yang miskin, penguasa memperbudak bawahan. Direktur memperkosa hak pekerja, dan para aparat menggali kubur bagi rakyat. Merah itu kepedihan kawan, merah itu gambaran kekalutan negeri ini,merah itu tak lebih baik dari hitamnya matamu. Kawan bangunlah mimpi itu sudah habis! Bahkan tidurmu tak akan pernah nyenyak lagi.


Putih bagiku adalah kesucian, kesucian kehendak, kesucian pikir dan kesucian tindakan. Melambangkan kesadaran dalam menangkap input dan memberikan feedback yang takkalah bersihnya. Itulah putih, layaknya melati yang selalu memikat dengan kesederhanaannya,layaknya kain kafan yang selalu membawa tubuh keliang lahat dalam kepolosan. Putih negeriku adalah kepolosan rakyat dibayang bayang kebrutalan penguasa korup, putih negeriku adalah kebodohan yang pekat dengan bening retina pribuminya. Putih bagi bangsaku adalah jemputan maut dari rasa lapar yang menyengat.


Putih dalam dekapan haribaan lautan, putih dalam selimut awan pegunungan adalah cita-cita yang tak akan pernah pupus,putih zamrud yang terbias dalam haru birunya canda tawa rakyat. Pemerataan yang memberikan kesejahteraan hidup keadilan yang tak berpihak.
Karena putihlah dasar membangun semangat kebangsaan, karena putihlah negeri ini menjadi kebesaran kekuatan yang menyatu dalam kepakan sayap kebebasan.


Negeriku bagimu merah darahku adalah semangat


Dan bagimu putih ragaku demimu bangsaku, untukmu baktiku.

Add to Technorati Favorites

In:

Masuk surga apa masuk PNS?

Seorang guru menanyakan kepada para muridnya “Siapa yang mau masuk surga?” serentak semua muridnya mengacungkan tangannya dengan mantab, kecuali satu muridnya yang duduk di pojok belakang kelas itu. Tak urung hal itu membuat guru tadi heran sekaligus penasaran.

“Apakah gerangan yang terjadi padamu, nak?”

”Tidakkah kau ingin masuk surga?”

”Orang tuaku menyuruhku masuk PNS saja, pak.kata bapak jadi PNS hidupnya bisa enak, terjamin kalau pensiun bisa kaya raya.” ujar si murid dengan polos.

”Nak, masuk surga itu bisa lebih kaya daripada masuk PNS.”

Pola pikir yang terlanjur terbentuk dikalangan masyarakat awam begitu tergambar jelas dalam kelas diatas. Para orang tua jaman sekarang begitu bangga ketika salah satu atau beberapa anaknya bisa menyandang status PNS di pundaknya. Sehingga pola pikir ini terpatri erat di kepala seorang murid yang masih belia. Pola pikir yang terkerucut menyempit dalam tatanan kehidupan yang luas sekali. Sangatlah luas hingga otak ini tak mampu tuk meraupnya satu demi satu.

Nabi terbesar sepanjang jaman pernah memberikan gambaran, Allah itu membagikan rezekinya 90% nya adalah dalam perdagangan atau niaga, sedang yang 10% nya disebarkan di berbagai profesi pekerjaan. Nah bisa dibayangkan kan? Kalau hanya 10% untuk semua profesi la PNS cuman dapat berapa persen. Paling cuman 1%. Masih mau masuk PNS? Ya kalau begitu masuk PNS kemudian masuk surga aja. Maksa kang!

Pemikiran inilah yang diturunkan oleh para orang tua ke generasi penerusnya, bahwa bila sudah berstatus PNS, tinggal ongkang-ongkang kaki aja sudah mendapatkan hidup yang layak, pensiun enak dan mati harta ngga cekak. Kalau pemikiran para generasi muda dulu ketika jaman pak karno seperti ini mungkin sudah amburadul Indonesia. Mungkin tanggal 28 Oktober tidak akan pernah menjadi hari sumpah pemuda. Mungkin proklamasi yang didengungkan pak karno hanya angan belaka. Mungkin apa yang pernah dibilang pak karno adalah hanya bualan. Tahu apa yang pernah dibilang pak karno? “ bahwa hanya dengan 100 pemuda, mereka bisa memindahkan gunung”. Kekuatan pemuda itu luar biasa. Generasi muda itu adalah akar perjuangan. Bahan bakar semangat, buih-buih yang menghiasi ombak sejarah.

Namun sayang generasi muda masa kini begitu mudahnya dicekoki dengan racun narkotik, sehingga otak-otaknya tumpul tak lebih seperti zombie yang berjalan tanpa otak tanpa perasaan.Pemuda generasi sekarang begitu puasnya dengan atribut yang bukan jati diri mereka.

Pemuda dipundakmu digantungkan cita-cita, pemuda kemana arah negara ini berjalan di tangamulah kendali diserahkan. Pemuda jangan hanya lantang ketika kau ada dibawah namun berazzamlah dengan semangat ketika amanah telah kau pegang.



Add to Technorati Favorites

In:

Atsar tentang ikhlas

Akh sigit terima kasih atas motivasi akh sigit membicarakan ikhlas di room tilawah hari kamis dan jum`at kemarin, saya jdi tertarik untuk belajar dan mencoba memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan ilmu ikhlas yang sangat minim saya kuasai.
Beberapa hal yang belum saya fahami akan ikhlas saya pelajari kembali agar membuka kembali memory yang belum sempat teraplikasi di akhlak saya.
Ikhlas yang berarti memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya. Yaitu menjadikan hanya Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Dengan cara mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al-khaliq. Ikhlas adalah syarat diterimanya amal shalih yang dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasulullah. Perlu digaris bawahai. Syarat dan ini mutlak. Seperti firman Allah :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(Al-Bayyinah:5)
Seorang hamba hanya akan selamat dari godaan setan dengan keikhlasan. Allah berfirman mengungkapkan pernyataan iblis.
“kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.”(Shaad :83)
Diriwayatkan seorang shalih berkata kepada dirinya sendiri “wahai diri,ikhlaslah, maka kamu akan selamat!”
Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi yang disenangi oleh diri dan hati manusia sedikit ataupun banyak, maka sungguh kejernihan amal itu telah tercemari. Hilang pulalah keikhlasan.padahal kebanyakan manusia terlena dalam harapan-harapannya dan juga syahwtnya. Hamper tidak ada suatu amalan atau ibdaha yang dilakukan oleh seseorang, bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan yang sebenarnya tidak berharga ini. Itulah sebabnya ada pepatah
“barangsiapa yang sesaat dari umurnya telah dengan ikhlas, hanya mengharap wajah Allah, pastilah ia akan selamat.”
Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kekotoran sedikit ataupun banyak sehingga tujuan dari taqarrub benar-benar murni karena Allah, bukan yang lain. Hal ini hanya akan dating dari seseorang yang mencintai Allah dan menggantungkan seluruh harapannya di akhirat
Resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan-kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan mengusahakan agar hati selalu terfokus kepada akhirat, hal ini akan memudahkan seseorang untuk berlaku ikhlas.banyka orang yang telah berpayah-payah untuk beramal menyangka bahwa ia melakukannya ikhlas karena Allah. Padahal sesungguhnya ia telah tertipu. Hal ini terjadi karena ia tidak mempehatikan perkara-perkara yang merusak keikhlasan.
“Dan sekiranya orang-orang yang lalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.”(Az-Zumar :47-48)
“Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(Al-Kahfi:103-104)
Ya`qub berkata.”orang ikhlas adalah yang menyembunyikan kebaikan-kebaikan dirinya sebagaimana ia menyembunyikan kenurukan-keburukannya”.
As-suusiy berkata,”ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas.barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”.
Ayyub berkata, “bagi para aktivis, mengikhlaskan niat jauh lebih sulit daripada melakukan seluruh aktivitas”.
Sebagian ulama berkata,”ikhlas sesaat berarti keselamatan abadi, tetapi ikhlas itu sulit sekali”.
Suhail pernah ditanya tentang sesuatu yang paling berat bagi diri. Ia menjawab,”ikhlas, sebab dengan ikhlas, diri tidak mendapatkan bagian dari apa yang telah dikerjakan sama sekali.”
Fudhail berkata,”meninggalkan sesuatu amal karena orang lain adalah riya`. Sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Terima kasih akh sigit, karena chatting kita mendapatkan ilmu lebih. Semoga ini menjadi media pembelajaran bagi saya. Dan bermanfaat bagi yang membaca.

Maroji` : - Tazkiyatun Nafs :ibnu rajab al-hambali,ibnu qayyim al-jauziyyah, imam al-ghazali


Add to Technorati Favorites

In:

Karena Tukul bukan Presiden….

Entah ini bisa dibilang isu atau fakta karena berita sudah sangat tersebar luas, sedangkan kenyataannya belum. Namun anehnya dampaknya sudah sangat nyata. Apabila fakta dihembuskan maka dampak adalah nyata, namun bila isu yang dihembuskan biasanya efeknya juga akan bias. Namun keadaan akhir-akhir ini kelihatan aneh bin ajaib, isu yang dampaknya sangat real tapi sepertinya keadaan ini sudah seringkali berulang dan tidak meninggalkan bekas sedikit pun bagi penguasa .
Sepenggal pepatah berbunyi ‘ keledai saja tidak mau terperosok kedua kali dilubang yang sama’ artinya kejadian awal yang merugikan sebisa mungin dihindari dan dijadikan pelajaran. Apa jadinya bila keledai terperosok di lubang yang sama tuk kedua kali? Kira-kira keledai bisa kan dibilang bodoh. Ya tentu saja keledai yang dungu saja ngga mau terlihat dungu bagaimana dengan yang bodoh? 2 kejadian yang sama terulang tanpa ada hikmah yang dipelajari. Didalam pemerintahan sebuah Negara bayangan dari ‘Republik mimpi’. Saya kira Negara kita ini yang asli adalah Republik mimpi. Dan yang sedang menaikkan harga BBM ini adalah Negara bonekanya atau Negara bayangannya.
Ada 2 hal yang bisa dilihat dari keputusan dinaikkannya harga BBM;
1) pemerintah tidak sanggup lagi mengcover pengeluaran APBN untuk segala macam subsidi. Tuntutan dari praktisi pendidikan menagih janji 20% jatah pendidikan, atau jatah kesehatan harus memangkas habis jatah subsidi BBM Negara ini. namun bila itu kenyataan yang ada kenapa pemerintah masih sanggup menggantinya dengan menambahkan post untuk dana BLT sebagai kompensasi penghapusan subsidi itu.Apa yang ingin disampaikan pemerintah?
2) Masyarakat harus belajar menerima kenyataan. Siapa yang berteriak paling kencang tentang reformasi dulu? Inilah hasil reformasi. Kenapa harus teriak lebih kencang lagi. Menarik urat leher hingga putus. Lah gimana orang urat lambung sudah putus duluan je. Maka benar celoteh di warteg malam itu. “reformasi yang kita rasakan sekarang ini bagai seseorang yang membeli sebuah baju baru, namun baju baru belum terbeli baju lama sudah ditanggalkan.” Masih untung ngga dibilang gila sama penjaga tokonya.
Nah sekarang tinggal persepsi kita mengemplementasikan logika yang dipakai oleh penguasanya. Kalau tukul yang jadi presiden sih jelas saya ngga pilih kedua opsi diatas. Yang saya pilih adalah opsi ketiga yaitu bila harga BBM dinaikkan oleh Presiden Tukul alasannya adalah agar Rating TV naik dan masa kontraknya tuk mengisi alamnya yaitu dunia empat mata tetap berlanjut.
Namun bila kebijakan itu dikeluarkan diakhir masa jabatan penguasa,apakah juga untuk menaikkan ratting pamornya agar masih bisa terus memimpin alam dunia Indonesiana ini? Who knows.
Dalam dunia advertising sebuah iklan diluncurkan tujuan utamanya adalah agar produk itu mendapat sebuah wilayah khusus di otak pemirsanya. Intinya bukan hanya penjualan yg menjadi target iklan, promo dan perkenalan produk juga sasaran yang sangat dominan. Maka kenapa iklan tidak selalu mencari atau menampilkan suasana atau kualitas yg wah. Karena manusia itu cenderung mengingat segala sesuatu yang berbau paling. Paling ,tidak hanya ada diatas yaitu yang paling bagus, yang paling seksi, yang paling vulgar, yang paling kreatif. Kondisi paling yang selalu diingat otak manusia juga berada diwilayah paling yang bawah. Yaitu yang paling jelek, yang paling norak, yang paling mbosenin, yang paling nipu dan paling-paling yang lain.
Seandainya didunia empat mata tukul mampu menyuguhkan hiburan pelepas himpitan kenaikan BBM ini ,itu juga tidak lepas karena Tukul tidak merasakan sama sekali dampak hiburannya. Bahwa dengan modal bibir majunya dan kebodohan khasnya tukul sama sekali akan menjadi orang berbeda dalam kesehariannya. Apakah penentu kebijakan Negara ini juga tidak pernah merasakan dampak kebijakan yang dibuatnya?
Tukul tahu bahwa dalam setiap ucapannya adalah tiada makna yang mampu dia sampaikan karena bagaimana pun tukul memonyongkan bibirnya dia akan tetap dianggap sebagai penghibur. Walaupun dimata penonton tukul adalah penguasa dunia empat mata namun segala apa yang diucapkannya adalah buah pikir dari para tim kreatif dibalik layar. Tukul hanya menambahkan bumbu untuk menjadikannya rating semakin naik. Apakah penguasa ini seperti itu juga?
Karena Tukul bukan presiden maka analogi itu sangatlah musykil, hil yang mustahal jarang terjadi didunia bayangan republik mimpi ini. Bagaimanapun dampak kebijakan itu telah dirasakan, dan kepastian tinggal menunggu tanggal yang tepat tuk terealisasi. Karena Tukul bukan Presiden maka Republik ini masih tegak berdiri berapapun ratingnya dimata dunia. Oh tukul….eh salah oh Presiden…!!



Add to Technorati Favorites

In:

Malaikat dirumahmu

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahawa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?

Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."

"Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"Dan bagaimana saya boleh mengerti saat orang-orang bercakap kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan bercakap kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu bercakap."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"

"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"

"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi."

"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu boleh kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Syurga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bolehkah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?

"Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."

Ingatlah selalu kasih sayang ibu, berdoalah untuknya dan cintailah dia sepanjang masa.


Add to Technorati Favorites

In:

Segalanya bermula dari kata

Segalanya bermula dari kata, tulis seorang penyair. ”kita percaya pada Tuhan pun karena kata-kata.” begitu selanjutnya. Memang, barangkali ada benarnya, jika dikatakan bahwa “kata” merupakan awal dari setiap gerak manusia. Orang sering menyebut ”kata” sebagai abstraksi dari kenyataan gerak yang diragakan oleh makhluk manusia. Dengan ”kata”, bisa dilakukan komunikasi, diketahui pikiran orang perorang, disingkap makna-makna yang implisit dan eksplisit, serta simbol komunikasi lainnya.
Kata adalah bunga atau hasil yang dimampatkan oleh lidah dalam makna dan arti. Wujud konkrit dari gugusan ide yang ada dikepala. Kalau ada seoarang anak yang belum genap 5 tahun ketika mengutarakan keinginannya, akan berusaha sebisa mungkin memakai kata-kata, meski dengan terbata-bata. Dipasar orang tawar-menawar harga, dimasjid khotib sedang menyampaikan khotbah. Disekolah guru mengajar, semua menjadi mungkin dengan ”kata”
Lemparkan sebuah kerikil diluasnya danau, niscaya gelombang akan terjadi. Mempengaruhi tenangnya danau dengan riak yang melingkar semakin lama semakin menjauh dan kemudian menghilang. Namun yang perlu diingat danau yang memiliki kehidupan didalamnya adalah danau yang selalu dihiasi dengan riak. Begitupun kata, sampaikan kata yang keluar dari dalam hati dengan simpati, maka keberadaan pemilik akan dinanti.
Himpunan waktu dan hidup ini selaras dengan jumlah kata yang pernah dikeluarkan, peradaban dan sejarah terukir melalui kata yang diimplementasikan dalam tulisan. Kata bagaikan anak sungai yang sedang menuju hilir, mengalir bersama dengan muatan-muatan yanga da didalamnya.
Maka camkanlah peradaban manusia terukir diatas setiap kata yang keluar dari lidah, berhati-hatilah dengan kata!


Add to Technorati Favorites

In:

Istirahat bukan berarti berhenti

Siapa yang tahu umur setiap manusia, apalagi manusia tak berguna seperti diri ini. Siapa pula yang akan menebak kapan malaikat kematian akan menjemput, itupun tak seorang pun tahu akan dijemput dengan cara bagaimana. Bisa jadi malah sebelum sempat menghirup nikmatnya dunia, Yang Kuasa sudah menetapkan tuk mati, siapa yang bisa komplain, protes atau mau demo.
Baiklah itu adalah kemustahilan, namun bagaiaman kalau saya berujar itu seandainya saya bisa tahu umur saya dari patokan kanjeng Nabi saya. Paling ngga aku bisa bilang kini aku ada di sepertiga umur saya. Kemudian disepertiga umur ini aku butuh istirahat. Bukan jasadi yang pingin kuistirahatkan bukan pula otak dan pemikiran didalamnya. Juga ngga mungkin ku menyuruh roh ku tuk sejenak keluar dari tubuh dan istirahat di surga.
Namun keimanan saya butuh istirahat, istirahat dari godaan yang melenakan. Duduk sebentar menghirup nafas halaqoh. Memperbaiki shaf yang tak lurus, yang menyisakan beberapa lubang shalat yang kentara. Keimanan ku itu kata seorang yang mafhum agama adalah seperti per. Melingkar dalam lingkaran yang tetap. Namun per itu yang harus dikondisikan apakah harus diletakkan melintang yang berarti merugi, diletakkan terjungkir yang berarti terlaknat atau mau diletakkan tegak berdiri yang berarti aku adalah salah satu orang yang beruntung.
Iman yang kuyakini sebagaimana kuyakini asinnya rasa garam dan manisnya rasa gula, dan hanya diriku ini yang bisa mengentepretasikannya ke dalam pemahamanku bahwa ya yang asin itu garam dan yang manis itu gula. Bila lidah sudah memberikan persetujuan dan pemahaman otak sudah memberikan approval tentang asinnya garam dan manisnya gula. Maka keyakinanku akan mengiyakan tentang garam dan gula.
Selama imanku masih meyakini hal itu maka kini elah tenang seluruh anggota tubuhku baik yang terlihat maupun tidak. Dan saatnya kini tuk beristirahat membersihkan kembali debu-debu yang sempat menempel, membasuh lagi kotoran-kotoran yang sempat terinjak. Agar tak lagi hitam apa yang disinggahinya.
Mungkin di sepertiga umur yang tak pasti inilah saat yang tepat tuk bertolak dan melesat, bergerak menuju pelita. Dan hanya Tuhan yang tahu apakah memang benar ‘pelita’ itu yang kutuju ataukah malah ada petromak di ruangan lain yang memancarkan jauh lebih banyak cahaya dari ‘pelita’ yang sedang kutuju ini. Dibalik tanda Tanya besar yang hinggap itu maka aku harus istirahat di sepertiga umur ini dan meresapi kembali tiap lembar daun yang jatuh kebumi. Tiap tetes air hujan yang turun membasahi bumi. Tiap hembusan awan yang bergerak tanpa tali.
Istirahat bukan berarti berhenti…………


Add to Technorati Favorites

In:

Cintaku cinta lelaki

Jika harus berbohong akan kukatakan bahwa engkau tidaklah cantik. Tapi mengapa mataku tidak bisa tidak harus memandangnya. Hatiku linglung oleh aura damainya. Entah sihir dari mana yang dia semburkan sehingga, tuk menghindar dan menjauh saja begitu berat dan susahnya.
Sekali lagi, jika harus berbohong, biarlah aku disambar petir. Kau tidak lah secantik bidadari, namun entah mengapa dari lidahku selalu menyebutmu bidadari dari kahyangan yang kecemplung di muka bumi ini. Entah kenapa senyummu selalu mengundang rasa takjubku tuk berdecak tak henti bagai seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat sirkus.
Jika memang harus berbohong, tolonglah Tuhan, hapuskan saja dosa bagi manusia untuk perkara berbohong ini, lewatkan saja dari monitormu bahwa berbohong itu akan menimbulkan kebohongan baru yang lebih besar lagi. Dan tolonglah Tuhan, putuskan saja lingkaran setan yang mengurung bahayanya dusta dari mulut dan hatiku.

Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya.

Cintaku seumpama gunung ucap Garin Nugroho dalam sebuah dialog dalam salah satu adegan Bulan Tertusuk Ilalang.betapa menakjubkan bila mengingat perasaan yang meluap-luap, dan semoga cinta ini tidak rentan dimakan umur dan hilang dihapus usia.
Cintaku bukan apa yang dituliskan Garin dalam filmnya itu. Cintaku memang cinta lelaki, cinta yang angkuh seperti batu karang, tetap tegak berdiri walau dihantui abrasi dan tiupan angin.
Cintaku cinta lelaki menderu bak debu ditengah padang pasir, tak akan habis hingga tertumpuk menjadi bukit.

Jika harus jujur tolong sekarang ungkapkanlah rasa malumu dihadapan cintaku ini. Berikan keangkuhan yang kubutuhkan demi tunas yang semakin menjulang ini. Sayang, sungguh tak satupun kata cinta terucap dari mulutmu selama ini. Namun coba sekalah permukaan hatiku, ada cintamu disana.
Sekali lagi, jujurlah ! kutahu cintamupun semegah istana raja-raja yang sering diceritakan dalam pewayangan, cintamu bak arimbi merindu arjuna. Cintamu tiada luka didalamnya. Cintamu tulus, cintamu seputih kertas tak berisi. Namun dari hatimu belum ada semerbak cinta itu ditaman bunga kita.
Jika memang harus jujur, ada seberkas sinar disana, diantara dedaunan senja ada lembayung menggelayut mesra disana. Ada siluet air mata yang indah disana, ada rintik air hujan yang kan menhapus segala keluh kesah disana. Dan kau pun meneruskan dialog Garin sang maestro itu sayang :

Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.
Cintamu tak seangkuh cintaku ternyata, cintamu mengalir bak sungai menuju muara. Tenang tak bersuara tak terlihat riak menghanyutkan, cintamu bagai daun yang jatuh diatas riak itu, melandai, memberi keheningan bagi setiap yang dilaluinya. Cintamu tenang sayangku.
Cintamu bukan seperti batu karang, cintamu melenakan. Cintamu pun abadi. Tak kenal batas, tak kenal waktu. Cintamu tak terlihat namun nyata adanya. Bahkan akupun tak mampu melihatnya.

Kupersembahkan tuk kekasih hatiku, sebulan lagi sayang, sebulan lagi 3 ramadhan akan kita lewati bersama.




Add to Technorati Favorites

In:

Kapan keindahan itu muncul?

Benar, semua masih dalam dimensi ruang dan waktu, pertanyaan dimana dan kapan adalah dimensi kita manusia. Namun hal itu akan selaras dengan penciptaan lain yang akan membuat indera kita terkagum dan takjub. Keindahan, sebuah kata sifat yang bahkan kita tidak tahu wujudnya, dan takaran akan keindahan itu. Keindahan, hanya makna semu yang tersrita lewat indera. Tak ada bentuk nyata dan tak ada objek yang benar-benar ada. Hanya sebatas kepuasan yang menggenang dilubuk hati ketika mendapatkannya.
Keindahan tersuguh disetiap panca indera kita, namun indera kita tak pernah mampu untuk mengetahui dengan jelas dan konkrit dimana kita bisa mendapat kepuasan keindahan itu. Banyak orang beramai-ramai ke setiap objek yang dianggapnya indah hanya untuk mencari kepuasan bathin itu.
Mereka berlomba ke belahan bumi lain hanya untuk berburu tentang keindahan itu. Tanpa sadar bahwa keindahan itu sebenarnya ada disamping mereka, namun mereka tak memiliki pertanyaan kapan keindahan itu akan muncul. Yang ada diotak mereka adalah dimana saya bisa mendapat keindahan itu sehingga terpuaskan bathin saya.
Yup, keindahan itu bukan masalah dimana, namun kapan kita akan mendapatkannya. Kapan keindahan pelangi akan nampak di mata kita? Kapan air terjun akan mengalir dan membasahi setiap pori-pori ketakjuban? Kapan keindahan itu akan muncul? Dimanapun engkau berada bila keindahan menampakkan dirinya, kau pasti akan takjub.
Wajah bidadari akan muncul dalam keindahan pagi, semilir angin sepoi akan muncul saat pagi menjelang, bentangan ombak akan hadir dalam keindahan tiupan angin, mentari jingga akan muncul dalam keindahan senja
Bukan dimana, tapi kapan. Kapan engkau akan mendapatkan keindahan itu?
Kapan keindahan itu akan menghampirimu?
Keindahan yang akan memberikan kenikmatan citarasa kehidupan.



Add to Technorati Favorites

In:

Jodoh dan Kedewasaan

Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi.
Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.

Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman.

Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan. Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?"

Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul).

Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan.

Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku? Wallahu a'lam bisshawaab.


Add to Technorati Favorites

In:

MERZY-koe



entah sejak kapan saya mulai menyukai yang tua-tua, menurut pandangan saya yang telah berumur itu klasik dan yang mulai jarang akan menjadi antik.

BINTER MERZY lengkapnya Kawasaki binter merzy nama terpanjang yang pernah disematkan ke sebuah merk motor. tak heran bila umurnya juga sepanjang namanya. tahun pembuatan 1980 (hijau) dan 1984(orange), bahkan pabrikan Kawasaki pun tidak mau mengakui keberadaan motor jenis ini. Binter? entah kemana sudah perusahaan itu hilang. dan nama Merzy ini yang mengidentikkan bahwa ini adalah motor jerman.

binter merzy diakit di jerman sehingga kawasaki hanyalah sebagai pemegang lisensi.
saya suka old style. kemampuan saya baru segini. namun semua masih berjalan. keinginan masih banyak, ARIEL, MATCHLESS, BSA, dan beberapa merk pabrikan inggris masih jadi impian saya.

keep on rolling bikers.




Add to Technorati Favorites

In:

Ketika Iblis membentangkan sajadah

Siang menjelang zuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu hari Jum’at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam Masjid. Ia nampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, melalui jendela, pintu, lubang udara kecil atau masuk melalui lubang pembuangan air. Salah satu keahlian iblis yang selalu diasahnya, khususnya dalam hal membelokkan aqidah manusia dan membisiki manusia agar tergelincir.
Pada setiap manusia, Iblis juga masuk melalui telinga, ke dalam saraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jemaah yang hadir. Iblis juga melekat di setiap sejadah.
"Hai, iblis!", Kiyai berseru, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiyai. Tidak perlu kau melarang saya. Ini hak saya untuk mengganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis marah.
"Ini rumah Tuhan, iblis! Tempat yang suci, kalau kau mau mengganggu, kau lakukan diluar nanti!", Kiyai cuba mengusir.
"Kiyai, hari ini, adalah hari uji cuba sistem baru".
Kiyai termangu.
"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".
"Dengan apa?" tanya Kiyai.
"Dengan sajadah!" jawab Iblis.
"Apa yang dapat kau lakukan dengan sajadah, iblis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah yang sedikit, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, iblis?"
"Bukan itu saja Kiyai..." tukas Iblis.
"Lalu?" Jawab Kiyai.
Iblis menjawab, "Saya juga akan masuk pada setiap designer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para designer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?" tukas Kiyai.

"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiyai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sejadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya dapat ikut membentangkan sajadah". jawab Iblis dengan yakin.
Dialog Iblis dan Kiyai terputus seketika.
Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sejadah. Keduanya berdampingan. Salah seorang memiliki sajadah yang lebar. Sementara yang seorang lagi, sajadahnya lebih kecil.
Orang yang punya sajadah lebar tanpa melihat kiri kanan terus saja membentangkan sajadahnya. Sementara, orang yang mempunyai sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah terlebih dahulu datang. Tanpa berfikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutup sepertiganya. Kemudian keduanya melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiyai!", Iblis memulai dialog lagi.

"Yang mana?" Kiyai menjawab.
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka mempunyai sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka". Seru Iblis yang kemudian lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiyai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunnah. Kiyai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sambil bangun dari sujud, dia membuka sajadahya yang tertindih, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya.
Dia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal yang serupa. Dia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditindih oleh sajadah yang lebar.
Keadaan ini berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, ketika sholat wajib juga, kejadian-kejadian seperti ini beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, daripada menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya.
Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembeda kelas. Pemilik sajadah lebar, diidentikkan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawahan yang setiap saat akan selalu menjadi subordinat dari orang yang berkuasa. Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiyai perlahan.
Wallahu'alam Bisshawab

Insanbiasa – terinspirasi oleh karya seorang teman.


Add to Technorati Favorites

In:

BOOK-A-GRAPHY DALAM SEBUAH CATATAN PINGGIR

(Meminjam istilah dalam kolom kompas untuk coretan Goenawan Muhammad)

Mencintai buku bukanlah hal mudah bagi sebagian besar orang, begitupun dengan saya. Dulu ketika masih kanak-kanak buku seperti hal asing bagi saya. Membaca adalah kegiatan yang membosankan. Namun semua berubah ketika ibu saya membawakan beberapa buku dari perpustakaan sekolahnya yang notabene ibu adalah seorang guru sekolah dasar didaerah terpencil.
Awalnya buku yang dibawakan ibu sama sekali tidak menggugah minat baca saya terhadap buku. Ibu pernah berkomentar, sebenarnya saya adalah memiliki bakat tuk menjadi seorang kutu buku karena saya sudah memiliki kemampuan membaca sejak duduk dibangku TK. Namun setajam-tajamnya golok kalau tidak diasah secara rutin akan berkarat juga. Oleh karena itu ibu selalu membawakan buku-buku itu setiap hari ke rumah, terserah mau dibaca atau ndak, ibu ndak pernah menyerah tuk terus membawakan buku-buku itu kerumah.
Hingga akhirnya usaha ibu menemukan hasil, sesekali buku-buku itu mulai kubuka sejalan dengan aktivitas bermainku diluar rumah yang mulai membosankan. Dan pelajaran sekolah yang mulai membuatku jenuh. Intinya pertama kali kumengenal buku, kuanggap membaca buku atau literature hanyalah pengisi waktu luang tanpa kuketahui makna dan manfaat sesungguhnya yang bisa kudapat dari sebuah buku. Buku hanyalah waktu senggang, waktu sisa dari kegiatan bermainku.
Bisa ditebak apa buku pertama yang kuhabiskan? Untuk ukuran seoarng anak SD kelas 1 anda bisa bayangkan buku-buku yang say abaca kan? Ibu selalu membawakan saya buku-buku seperti yang anda bayangkan. Sikancil, cerita dora, petualangan Mohican, namun yang berhasil saya tammatkan membacanya waktu itu adalah, kisah 1001 malam jilid pertama. Dimana masih banyak cerita abu nawas didalamnya. Kala itu cerita abunawas sangat membuat saya tertarik hingga saya selalu membayangkan bagaimana dia bisa melakukannya. Buku pertama yang berhasil saya tammatkan adalah kisah 1001 malam. Untuk ukuran anak SD kelas 1 itu tidak lazim. Namun kala itu saya memang anak yang agak kurang lazim diantara teman sepermainan yang sebaya. Saya kurang pergaulan dan cenderung lebih banyak dirumah.
Melihat minat baca saya yang mulai tumbuh ibu terus membawakan buku-buku cerita setiap hari hingga saya lupa tuk mengingat satu-persatu judul buku itu. Mulai yang murni cerita anak, dongeng, cerita bergambar. Hingga minat baca itu sudah terlewat buas. Sehingga tuk meredamnya saya berusaha membaca sesuatu yang lain. Karena minat baca ini tidak pernah mau tuk membaca dua kali satu literature yang sama. Saya melahap habis majalah langganan ibu dulu. KARTINI. Saya mencoba memecahkan teka-teki TTS silang disetiap Koran yang bapak beli. Minat baca ini semakin buas.
Ketika pindah kekota saya dikenalkan dengan bacaan baru oleh seorang kawan. KOMIK mereka sering menyebutnya. Dan imbas komik ini lebih hebat lagi dalam mempengaruhi minat baca saya. Saya bisa menghabiskan 20-an seri komik dalam sehari bila sudah diletakkan dihadapan saya. Hal yang membuat orang tua saya sering memarahi saya karena kelewat lupa waktu. Komik pertama yang saya tammatkan yang memjadi pemicu saya tuk membaca komik lagi adalah komik berjudul KENJI. Dalam titik ini membaca tidak lagi menjadi sampingan dalam waktu keseharian saya. Membaca sudah seperti bagian dari rutinitas harian saya. Sehari tanpa membaca komik rasanya ada yang hilang. Ada sesuatu yang kurang yang akan mengganggu tidur saya. Hingga tammat SD komik selalu mengisi hari-hari saya. Entah apa yang kudapat dari membaca komik ini. Namun komik bukanlah bacaan yang sia-sia, komik adalah novel yang diceritakan dibantu dengan gambar, sehingga lebih mudah dipahami dan tidak perlu menghayal tuk menterjemahkan ceritanya. Karena dengan gambar hayalan itu lebih nyata dan lebih mudah dipahami. Kelebihan komik dalam hal ini adalah lebihmudh memahami ceritanya. Namun kekurangannya adalah mengurangi kreatifitas menghayal. Jangan salah menghayal dalam menuliskan ide ceita adalah factor terpenting tuk menulis. Menghayal adalah buah imajinasi untuk seorang penulis.
Karena hal itu mulai kusadari maka sedikit demi sedikit mulai kukurangi membaca komik ini, entah sudah berapa judul kuhabiskan dalam membaca komik ini. Bahkan buku komik sudah saya masukkan dalam kardus besar tidak pernah kujumpakan dengan mataku agar minat membaca komik itu segera pupus dan tergantikan dengan yang lain.

Ketika SMP saya tergabung dalam sebuah organisasi kepemudaan Islam, IRM begitulah yang saya tahu. Ikatan Remaja Muhammadiyah, bisa dibilang anakan atau kader masa depan dari ormas Muhammadiyah. Kader yang dididik dan dipersiapkan tuk kelak mengisi kursi Muhammadiyah. Muhammadiyah disini yang saya maksud adalah ormas, organisasi masyarakat. Bukan aliran atau. Fiqroh bukan firqoh. Sangat jauh beda dan maknanya. Muhammadiyah adalah wadah yang dibuat oleh para cendikiawan tuk menampung pemikiran dan pemahaman untuk membangun mental dan fundamentalis masyarakat. Bukan aliran salah satu cabang dari Islam. Seperti halnya NU. Dan saya aktif di organisasi dengan menjadi bagiannya dalam ikatan IRM.
Kenapa saya bercerita itu? Karena dari situlah saya mengenal buku-buku dan literature islam. Awal mula saya menggandrungi buku fiqh, sirrah, tafsir dan yang lain adalah dari keaktifan saya dalam organisasi kepemudaan itu. Disamping saya juga lebih mengenal persahabatan dalam ukhuwah. Keindahan silaturahim dalam islam, kebahagiaan hidup berjamaah dan rangkaian kegiatan muhasabah dan pendekatan diri kepada Yang Maha Menciptakan.
Ketika masih aktif dalam organisasi ini saya begitu mendalami Muhammadiyah melalui buku-buku dan literaturnya. Saya membaca profil beberapa tokohnya, mulai dari Ahmad Dahlan, Amin Rais, Syafi`I Maarif, Din Syamsudin dan banyak lagi tokoh yang lain. Hingga pernah juga membaca profil tokoh yang lain seperti Abdurrahman Wahid, Nurkholis majid dan Emha Ainun Nadjib. Pokoknya ketika masih SMP ketertarikan saya membaca adalah dalam hal membaca Profil biographi tokoh dan perjalanan hidupnya. Dari situ mungkin banyak yang saya dapat. Tentang mempelajari pengalaman hidup, meniru sikap dan cara terbaik menentukan keputusan yang diambil berdasar pandangan para tokoh itu. Buku yang begitu mempengaruhi hidup saya waktu itu diantara banyak buku yang saya baca. Adalah biographi pak Ahmad Dahlan Pencetus gagasan Muhammadiyah. Seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi ulama besar. Dengan pemikiran luar biasa dijamannya. Sayangnya saya tidak pernah dapat memiliki buku itu, karena saya meminjamnya dari seorang ustadz, saya numpang membaca di perpustakaan pribadinya. Dan ketika saya mencari dipasaran buku itu tidak pernah ada yang tahu rimbanya.

Ketika menginjak jenjang SMU saya diberi kebebasan oleh orang tua memilih sendiri sekolah, disamping karena nilai NEM saya juga Alhamdulillah diatas rata-rata. Pilihan saya jatuh ke sekolah kejuruan negeri. Dan saya memilih Elektro Komunikasi sebagai jurusan yang saya ambil, disamping alasan bahwa saya takut orang tua tidak mampu membiayai ketika saya mendapat berita bahwa di sekolah unggulan dikota saya menerima siswa yang nilai NEM nya diatas 40 tanpa test waktu itu. Disamping itu saya melihat pergaulan disekolah itu kurang sehat walau ketika saya masuk di sekolah kejuruan saya itu ternyata pergaulan juga lebih tidak sehat. Namun pola pergaulan di sekolah saya masih bisa saya ikuti dan bila ada sisi negatif sebisa mungkin saya hindari. Toh tidak menutup kemungkinan disetiap aspek pergaulan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Di jenjang umur itu saya bisa dikatakan sudah sebagai remaja tanggung yang mudah terombang-ambing oleh banyak pemikiran. Namun saya sangat bersyukur karena pengalaman say di organisasi masih berlanjut dan disinilah dampak dari keorganisasian itu. Saya sudah bisa dengan tegas menentukan kearah mana hidup saya akan berjalan, saya sudah bisa menentukan keputusanyang mantap disaat remaja tanggung seumuran saya masih limbung oleh arus pergaulan. Disaat para ABG masih berusaha mencari ujung pangkal dari jati dirinya, berkat keorganisasian diumur itu saya sudah mulai membentuk jati diri saya.
Buku juga salah satu barometer keberhasilan itu, cakrawala berpikir semakin luas. Sebab akibat semakin dipahami. Hukum kausal yang berlaku akan terus berlaku, dan buku-buku yang selama ini saya baca membuat saya semakin lapar akan buku. Ketika pergaulan mengharuskan saya untuk semakin luas menelaah, maka buku adalah sarana yang tepat tuk mengisi hasanah keilmuan itu, disamping petuah dan halaqoh yang harus didatangi. Namun anehnya, minat baca itu semakin udzur, semakin tergusur oleh kesibukan bergaul. Minat baca itu entah kenapa hilang dengan sendirinya. Selama 3 tahun saya mengecap bangku STM bahkan tak satu buku pun kubaca. Aneh memang setelah sebelumnya rasa haus akan buku itu begitu menggebu tiba-tiba hilang tanpa bekas.
Saya menemukan jawaban akan keenggana saya dibuku itu ketika saya menyadari rutinitas saya berubah. Saya menjadi seorang atlit amatir. Olahragawan seukuran kampung atau sekolah. Saya ikut sebuah klub sepakbola setempat, saya menjadi tim inti di tim sepakbola sekolah, saya menjadi anggota tak tergantikan dalam tim bola basket sekolah, dan saya adalah seorang sabuk biru dalam institusi INKAI. Karateka yang digembleng melalui sebuah wadah institute resmi. Saya menemukan jawaban itu. Selama 3 tahun saya begitu gigih membentuk badan dan mental saya melalui kegiatan olah raga. Olah raga yang tergolong berat hingga semua harus berakhir diatas meja operasi. Karena semangat berolahraga yang membumbung saya tidak memperhitungkan kekuatan tubuh saya. Semangat mengalahkan batas maksimum ketahana tubuh. Akhirnya otot utama penyambung antara hernia dan buah zakar mengalami gangguan ini yang dalam olah raga sering terjadi, musuh yang sangat ditakuti olahragwan profesional karena akan membunuh karirnya, yang saya syukuri adalah saya tidak berkarir didalam olah raga. Saya hanya menyalurkan hobi. 2 musuh utama itu, yaitu: cedera dan hernia. Dan saya harus menyadari tubuh saya tidak sanggup menahan hernia itu dan kemudian saya harus istirahat panjang. Namun syukurlah itu baru awal sehingga hanya satu otot yang harus diputus karena sudah menjadi gejala varicocel.
Dalam sesaat bukan buku yang mempengaruhi hidup saya, olah raga menyetir hidup saya dalam 3 tahun terakhir. Hingga kemudian saya harus melakukan perjalanan menempuh pendidikan di pulau seberang. Namun setelah perjalanan itulah kemudian buku kembali masuk dalam kehidupan sehari-hari saya. Buku yang akan mengubah drastis semua. Bukulah yang menjadikan saya seorang bapak kini. Buku yang begitu hidup hingga saya berani mengambil keputusan terbesar dalam hidup. Buku yang mengobarkan semangat melewati mitsaqon gholidzoh.

Dalam sekejab kehidupanku berubah drastis, kini tidak ada lagi orang tua tempat saya mengadu. Di negeri rantau ini kehidupanku benar-benar menemui titik balik. Didikan orang tua, gemblengan organisasi, ajaran para ustadz dan berbagai bacaan dan literatur yang pernah kubaca harus saya pakai baik-baik. Betapa bersyukurnya saya ketika tahu bahwa didikan orang tua benar-benar berdampak kini, betapa pengalaman diorganisasi mendidik saya menjadi jiwa yang mandiri dan ulet. Dan berbagai bacaan yang pernah saya baca sangat membantu saya dalam mengenali sifat dan karakter berbagai macam orang yang saya temui. Berpikir positif dan bertindak dewasa karya norman vincent peale salah satu buku yang paling saya ingat yang setidaknya memberikan pelajaran bahwa menyikapi setiap karakter manusia itu berbeda-beda. Menjadikan itu sebuah seni. Seni dalam bergaul seni dalam menyelami lingkungan dan hidup didalamnya. Tanpa friksi dan gesekan. Peale adalah seorang pastur Nasrani, namun bukan itu yang menjadi penyebab saya membaca bukunya dan yang saya fahami peale tidak memasukkan unsur agama dalam karyanya itu. Buku memberikan wawasan tentang bagaimana mengenali sifat dan karakter setiap individu dan bagaiman menyikapi sifat dan karakter itu sebaik-baiknya. Dan peale menjelaskan berdasar keahlian ilmunya dalam hal psikologi dan pengalamannya dalam berbagai riset dan percobaan. Bukan, buku ini bukan mempengaruhi saya, buku ini memberikan cakrawala berpikir dan bertindak berdasar kehidupan sehari-hari manusia. Sehingga apapun yang ditulis didalamnya sangat jauh dari intervensi agama.

Teddy seingat yang ada dalam memory saya, begitulah namanya. Teman seangkatan ketika di prodip anggaran di palembang, teman satu kamar kost. Seorang ikhwan yang taat, penghuni masjid terdekat. Yang paling saya ingat adalah aroma tubuhnya yang selalu wangi dan wajahnya yang teduh dan hangat murah senyum. Dia memberikan saya sebuah buku yang akan saya ingat sampai sekarang. Ihya` Ulumuddin karya imam Al-ghazali buku tentang penjelasan dan pengejawantahan fiqh. Mulai dari bab pertama tentang Thaharah sampai bab terakhir tentang musik dan suara. InsyaAllah buku itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan pemahaman tentang Islam dan pelaksanaan ibadahanya bagi saya pribadi. Memberikan wawasan keislaman yang luas, memberikan patokan penyambung ilmu dari Rasulullah langsung kepada pemahaman saya melalui sebuah kitab. Dimulai dari ketaatan teddy yang saya saksikan betul ibadahnya hingga sampai ke kitab Alghazali itu. Titik tolak pemahamanku tentang islam semakin meningkat. Diirngi dengan kesadaran untuk beribadah lebih giat dan lebih taat. Dalam hal ini kitab ihya` ulumuddin itu benar-benar menggugah keimanan dalam hati ini yang semakin rapuh memberikan mutiara-mutiara baru untuk lebih dekat kepadanya. Dimulai dari halaman satu kitab itu mulai kusentuh lagi Alquran yang sudah lama tak kubuka. Debunya hampir-hampir menutupi hati ini.
Nah sesuai dengan apa yang saya tuliskan diatas tentang sebuah buku yang akan menjadikan saya seorang bapak, berawala dari sebuah buku.mmhh.. seingat saya ada 2 buah buku. Bermula ketika ghiroh tuk segera menikah itu mulai muncul. Desakan dari dalam hati bhawa dengan bergaji dan tanpa menikah saya takut tuk membuka pintu zina. Dimulai dari kesadaran itu maka ghiroh itu semakin menggebu tuk segera meminang seorang gadis dan kujadikan pengelola keuanganku. Begitulah sejujurnya awal niatan pernikahan itu disamping keenggananku tuk mendekati maksiat. Sebuah cita-cita naif dari seorang mantan begajulan. Namun alangkah hebat dampak niat itu. Segala daya dan upaya saya kerahkan tuk membuat diri ini menjadi lebih baik. Mulai dari mengikuti segala bentuk pengajian hingga membuka lebih banyak literatur islam. Menambah hasanah keilmuan dalam islam dan sampai menghindari sebanyak dan sekuat tenaga berbagai macam maksiat. Hingga........
Hingga saya berkenalan dengan seorang akhwat dalam chatting di DJP. Kala itu saya masih belum menikah namun saya sudah memiliki seorang target. Akhwat itu jauh lebih tua umurnya dari saya juga masih sendiri. Kami sering chattting karena berasal dari satu daerah kami menjadi akrab. Akhwat itu seperti yangs aya tangkap dalam chatting adalah sosok akhwat yang taat. Saya mengetahui dari caranya bicara dan muatan yang dibicarakannya.berisi dan begitu banyak pengetahuan yang bisa diambil. Jadilah saya belajar ke akhwat tersebut. Dan suatu ketika, akhwat tersebut mengetahui bahwa saya sudah memiliki target namun masih belum berani meminangnya. Akhwat tersebut serta merta memberikan saya 2 pilihan, tinggalkan akhwat target saya itu atau nikahi dia. Sembari 3 hari kemudian datang sebuah judul buku yang dikirimkan tuk saya. Indahnya pacaran setelah menikah buku yang sangat terkenal dikalangan kader dakwah ungkapnya, habiskan dan buatlah keputusan!, ucap akhwat yang sudah kuanggap kakak sendiri tersebut. Ditambah saya mendapat referensi sebuah buku berjudul Kupinang engkau dengan Hamdallah semakin menguatkan ghirohku tuk menikahinya sesegera mungkin. Meninggalkan pintu zina yang semakin terbuka lebar.
Dan kemudian saya menyarankan ke semua kader dakwah yang masih takut atau ragu-ragu tuk segera menikah, bacalah dua buku itu. InsyaAllah anda akan dibuat malu karenanya. Malu terhadap diri sendiri, malu terhadap orang tua dan terutama malu terhadap pemberi contoh pertama tentang pernikahan itu sendiri. Uswatun hasannah Nabi Muhammad saw.

Disamping buku-buku yang pernah mempengaruhi, atau memberikan wawasan atau hanya sekedar saya baca iseng diatas. Tak kalah hebatnya manfaat buku itu adalah sebagai memory terpendam kita akan begitu banyaknya hasanah ilmu yang diciptakan Allah didunia ini. Hanya 1% ilmu Allah yang diturunkan didunia ini. Namun otak kita hanya mampu menangkap 1% nya saja dari ilmu Allah yang diturunkan itu. Bayangkan betapa hebatnya ilmu sebenarnya yang masih belum diturunkan Allah. Oleh karena itu saya selalu teringat akan perkataan ustadz yang saya baca bukunya di perpustakaan pribadinya dulu. Semakin saya mempelajari ilmu semakin saya dibuat bodoh karenanya. Memang benar adanya semakin kita tahu maka semakin kita dibuatnya tidak tahu. Semakin padi berisi akan semakin dia menunduk begitulah kiranya seharusnya para cendikiawan bertindak dan bersikap.
Buku adalah salah satu literatur dari berbagai cara ilmu itu dicetak dan diperbanyak untuk kemudian dibagi dan disebarkan. Saya menganggap buku lebih otentik sehingga saya lebih tertarik tuk membaca dan mengumpulkannya disamping begitu banyak media dan literatur yang kini tersedia. Masih banyak judul buku yang belum saya sebutkan diatas seperti Sophie`s Verden karya Jostein Gaarder, Jibril belum pensiun karya Emha Ainun Nadjib, Saksikan Bahwa Saya Seorang Muslim, Sayalah setan, Karakteristik Lelaki Shalih, Fiqh Prioritas, Kumpulan Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah jilid 1-5 dan yang lain yang terkumpul dirak buku saya yang begitu banyak memberikan wawasan dan pengaruh dalam cara berpikir cara bertindak dan kecenderungan dalam menentukan keputusan dalam hidup saya yang mau tak mau dan tak bsia saya ingkari telah mengubah jalan hidup saya.

Apa yang saya tulis diatas adalah sebuah perjalanan hidup saya yang teramat singkatnya berkenaan dengan buku-buku yang masih bisa saya ingat, saya tidak memakai nara sumber, atau media acuan dalam menulisnya. Murni apa yang tertuang tanpa lebih dan kurang. Tiada motivasi lain dalam menulis sebuah perjalanan hidup ini kecuali adalah seorang sahabat yang tak pernah kutahu wajahnya diseberang sana nun jauh yang pernah singgah di blogspot saya dan meninggalkan jejak dua kata Wahid Nugroho. Tiada motivasi lain, selain rasa ketertarikan tuk saling mengenal lebih jauh. Buku yang diimingkan pun bukanlah motivasi utama saya. Silahkan bagi saudara lain yang berkenan dengan buku itu untuk memilikinya. Dan apabila ada dari buku diatas yang bisa menjadi refernsi untuk saudara saya itu adalah bukan suatu alasan yang naif bila saya menganggap tulisan saya ini sudah bermanfaat bagi orang lain.
Setidaknya itulah yang bisa saya tangkap dari diadakannya sayembara itu. Ketika menghabiskan novel Hafalan Shalat Delisa saya menangkap apa makna inti dari novel itu. ”bukan karena hadiah saya beribadah” dan bukan karena iming-iming buku saya berusaha membahagiakan anda.
Bandar Lampung, 05 Februari 2008
-tuk dibaca sahabatku, bukan demi sebuah hadiah-with respect from my heart-




Add to Technorati Favorites

In:

Untung bukan moral kita yang dicuri!


Sore itu seorang teman memberikan saya sebuah gantungan kunci terbuat dari kuningan dengan bentuk lingkaran, ditengah-tengahnya tertulis kata “Malaysia” dengan menara petronas dibelakangnya. Sesudah saya ucapkan terima kasih saya teringat dengan kasus runyam Indonesia-malaysia akhir-akhir kemarin yang melibatkan pertentangan dalam sisi budaya, demi membaca kata yang ada ditengahnya yang sampai-sampai kata itu diplesetkan menjadi “Malingsia”.
Sebenarnya kita mengetahui dengan tepat tidak ya apa yang terjadi? Yakinkah kita info yang kita dapat sudah benar? Apa bukan arah pemikiran kita dan info yang kita dapat sudah dipengaruhi oleh media? Atau memang mulut dan pikiran kita terlalu tergesa tuk menjudge sesuatu tanpa harus menunggu dan menganalisis dulu? Itulah kekuatan media dalam mengekspos suatu wacana menjadi paradigma berpikir. Dikemas dalam good looking wrap kemudian disajikan dalam delicious breakfast dan menghasilkan missing link information without responsibility. Mulai saat ini hati-hati terhadap pers. Kiranya benar bila seorang pemburu berita bisa membunuh.
Seperti halnya pemberitaan klaim Malaysia atas budaya kita, budaya Indonesia. Berita yang ada diberbagai media begitu gencar menuduh Malaysia mencuri budaya kita, kemudian mempatenkannya. Dengan dalaih mempertahankan kedaulatan budaya sendiri sadakah bahwa tiap kalimat yang disampaikan diselingi sedikit bibit kebencian. Sehingga tak lama berselang para mahasiswa yang notabene masih memiliki semangat besar namun dengan intelektual tak sebanding, mengeluarkan suara dalam bentuk demo,dalam bentuk protes dan terakhir yang begitu mengharukan adalah dalam bentuk perusakan dan pembangkangan. Membeo adalah mengupas kulitnya tanpa memahami isinya. Khas dengan kemerosotan moral yang sedang terjadi.
Perdana Menteri Malaysia menyampaikan awal titik masalah terjadinya sengketa itu adalah ditangan media, namun kini media malah mundur teratur ketika fakta itu diungkapkan oleh pihak Malaysia. Dalam suatu situs disebutkan bahwa budaya Indonesia yang diklaim itu antara lain, Reog Ponorogo, kerajinan Batik, lagu rasa sayange, alat music angklung, dan makanan khas padang rending. Disitus itu tertulis budaya asli Malaysia. Rumpun melayu kaya akan kata untuk mengekspresikan suara. Kata “asli” didalam situs itu memang benar adanya bila diartikan menggunakan bahasa melayu Malaysia yang berarti adalah “tradisional”. Bukan “asli” menurut pemahaman melayu Indonesia yang berarti “otentik” . seperti halnya kata “ahli” dalam penggunaan bahasa melayu Malaysia yang berarti “anggota” sedang bila dimaknai secara melayu Indonesia berarti “pakar”. Terkuak sudah inti permasalahan itu hanyalah terletak pada pemahaman salah satu kata atau kalimat.
Namun dalam hal ini ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai akan keharmonisan suku yang dulunya disatukan oleh sebuah kerajaan diraja yang sangat terkenal dengan patih Gajah Madanya. Indonesia Malaysia adalah negeri subur dimana Majapahit menjadi suatu kedaulatan tertinggi. Dalam persaudaraan kesukuan dan keberbudayaan. Sehingga reaksi berlebihan atas hal ini bukanlah jalan yang tebaik. Sampai ada yang berpendapat bahwa Malaysia mencari masalah. sampai harus mempatenkan hak budaya. Budaya itu karya manusia, budaya itu interaksi antara satu manusia dengan manusia yang lain. Budaya tidak untuk diklaim dipatenkan atau dimiliki sendiri, budaya itu tujuannya untuk dishare dibagi dengan sesame. Kalau kita lihat definisi patent setelah saya search di Wikipedia(lupakan sejenak tentang kualitas dan validitas Wikipedia).Sangatlah tidak cocok dengan kandungan makna yang disandang oleh kata budaya itu sendiri.
A patent is not a right to practice or use the invention. Rather, a patent provides the right to exclude others from making, using, selling, offering for sale, or importing the patented invention for the term of the patent[…]
Exclude others?
Apa iya budaya juga harus dipatenkan? Bila definisinya seperti itu?
Apa sudah terselesaikan sengketa itu, menurut saya sudah. Semua sudah duduk pada kursinya masing-masing. Kata sepakat sudah diambil dikalangan pejabat dan para pakar budaya. Sekarang apa yang terjadi dengan yang telah terhasut? Sebenarnya kita harus berterima kasih kepada Malaysia. Apa sebab? Dengan tanpa sengaja Malaysia memberikan pelajaran kepada kita, untuk lebih mencintai budaya kita, melestarikan dan paling tidak kita faham dan tahu tentang budaya sendiri. Malaysia memberikan andil besar dalam mendidik intuisi berpikir kita tentang budaya. Kok bisa?
Coba tolong anda jawab apa yang saya tanyakan?
Anda mencintai budaya anda sendiri?
(+)Ketika Malaysia mengklaim budaya anda sebagai budaya mereka apa perasaan anda? Marah? Jengkel? Sakit hati?
(-)Anda yang Mahasiswa besok kuliah paginya pake batik ya?
(+)Ketika Malaysia melalui situsnya mengatakan budaya kita adalah budaya asli mereka apakaha anda marah?
(-)kalau seandainya anda saya kasih 2 tiket yang satu menonton pertunjukan konser grup music terkenal dan satunya adalah tiket menonton pertunjukan reog ponorogo, tiket mana yang anda pilih?
Sudah anda jawab 2 pasang pertanyaan diatas? Apa jawaban yang anda dapat? Kebanyakan dari responden yang saya tanyakan adalah jawaban mereka akan bertentangan antara tiap pasangan itu. Pada pertanyaan yang saya tandai dengan symbol positif anda akan dengan yakin mengiyakan karena info yang anda dapat belum memadai tuk bisa dipertanggung jawabkan. Sedang di pertanyaan yang saya tandai symbol negative akan terjadi keraguan didalam pemikiran anda dan kebanyakan jawabannya adalah bertentangan dengan pertanyaan sebelumnya. Anda akan menjadi gusar ketika dari 2 pasang pertanyaan itu akan menggambarkan betapa anda secara tidak sadar malah meninggalkan budaya anda sendiri. Namun kenapa anda harus marah ketika ada pihak lain yang mengklaim budaya anda?
Sampai titik ini masalah ternyata ada didalam jiwa bangsa sendiri. Bukan pada klaim Malaysia. Kita malu untuk terjun langsung dalam budaya ini namun kita marah bila ada yang mengambilnya. Kita lebih suka masuk twenty one ketimbang melihat pertunjukan wayang. Kita mengucapkan tidak pada tempatnya memakai batik ketimbang mondar-mandir di mall memakai pakaian urban life style. Bukankah itu indikasi bahwa masalah ada di moral penghuni budayanya.
Titik masalah sudah jelas kemerosotan moral budaya sedang berlangsung. Gunakan pikiran jernih, duduk tenang, analisa dengan benar, baru kemudian keluarkan argument. Bukan menonjolkan amarah dan kebencian. Yakinlah bahwa budaya itu masih milik kita hingga saat ini.

Sumber :
 Antara News
 Metrotvnews.com


Add to Technorati Favorites

In:

Kita diuji dititik terendah

Judul ini mungkin sebagian kita ada yang pernah menemuinya atau mendapatinya, entah disuatu majalah atau suatu artikel. ‘Kita diuji dititik terendah’ memang pernah ada artikel dulu yang memuat tentang ini, namun ini hanya editan saya pribadi saya ketika ingat akhir-akhir ini sepertinya Allah sedang memberikan ujiannya kepada saya. Atau Allah malah memberikan peringatan ke saya untuk kembali ke jalurNYA.
Ketika mental kita sedang ambruk, merambat dalam pintu keputus asaan, kebanyakan manusia mengeluarkan keluhan dan umpatan, namun
disitulah keindahan ujian itu akan Allah berikan, dan Allah akan memilih dari sekian banyak hambaNYA untuk diberikan sertifikat kelulusan di keningnya sebagai calon penghuni surga kelak. Amin.dengan bekal sabar dan tawakkal.Dititik terendah biasanya ujian menerpa dengan hebatnya, ketika iman ini begitu drop, ketika jiwa ini begitu sesak oleh himpitan, ketika raga ini terkoyak oleh cercaan, ujian itu datang.Yup…..Allah tahu setiap kondisi hambaNYA. Sehingga letak kekuatan itulah yang seharusnya dapat kita gali untuk menumbuhkan kesabaran dan ketawakkalan dalam menerima segala ujianNYA.
Jangan pernah berpikir Allah hanya akan menguji hambaNYA ketika kondisi keimanannya dalam kondisi toppeak saja. Dan jangan dikira Setan hanya akan menggelincirkan manusia ketika manusia itu dalam keadaan iman yang lemah saja.Pernah ada suatu riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang buta. Sahabat buta ini begitu inginnya shalat dimasjid namun dia buta, untuk menggaji seorang pembantu yang akan menuntunnya ke masjid dia tidak mampu. Untuk memelihara binatang peliharaan sebagai pengganti matanyapun dia tak kuat. Maka karena keingin yang besar itu dia nekat ke masjid yang jaraknya sekitar 3 gang dari rumahnya.
Setelah wudhu sahabat ini keluar rumah dan hendak ke masjid tapi alangkah sial hanya beberapa langkah kakinya terperosok ke lubang. Ujian pertama datang dan si sahabat bergegas kembali pulang untuk berganti pakaian setelah pakaiannya kotor karena terperosok kelubang tadi. Kemudian berjalan lagi dia kemasjid, ujian pertama dilaluinya, dan Allah menggaransinya dengan harum surga bagi sahabat buta ini beserta keluarganya.
Tidak berapa lama sisahabat buta ini berjalan hendak ke masjid, terperosok lagi dia di lubang yg lain, sehingga dia kembali kerumahnya untuk berganti pakaian lagi. Kemudian berwudhu kembali dan bergegas kembali ke masjid. Ujian kedua dilaluinya dengan mulus dan Allah mengganti pengorbanannya dengan surga bagi kerabat dan tetangganya.
Ketika hampir sampai di halaman masjid si sahabat buta ini terperosok dilubang kembali, namun tak disangka ada seorang pemuda bertubuh tegap langsung menggapai lengannya dan menariknya dari lubang itu sehingga selamatlah si sahabat buta itu dari terjerembab. Ketika akan melangkah tak lupa si sahabat mengucapkan terima kasih, kemudian ditanyanya si pemuda tadi.
“Siapakah engkau wahai pemuda ?” ucapnya sambil mengucapkan terima kasih
“Aku adalah iblis.” Ucap pemuda tadi
Betapa terkejutnya sisahabat buta tadi ketika mengetahui bahwa yang menolongnya adalah iblis, musuh abadi yang terkutuk.Namun dengan nada penasaran si sahabat buta bertanya kembali,
“apakah gerangan maksud anda menolong saya?”
Kemudian iblis menjawab,“kalau anda terjerembab kelubang pertama saja Allah menghapuskan dosa anda dan keluarga anda, dan terperosok ke lubang kedua Allah menghapuskan dosa kerabat dan tetangga anda. Bisa-bisa bila anda terperosok ke lubang ketiga Allah akan menghapuskan seluruh dosa orang sekampung.Makanya saya menolong anda dan menarik anda dari lubang.” Jawab iblis.
Itulah sekelumit ilustrasi bagaimana seorang sahabat pun masih mendapatkan ujian juga. Siapapun orangnya pasti mendapatkan ujian dalam hidupnya, dan biasanya ujian itu datang namun kita kadang tidak menyadarinya, apalagi bila ujian itu datang disaat kondisi kita sedang dalam keadaan down.
Ujian itu ada yang mengatakan identik dengan tingkat kesholehan yang sedang tinggi-tingginya, namun ketika kondisi iman kita sedang dibawah jangan sampai lengah akan ujian ini.karena kebanyakan yang tidak lulus adalah ketika diuji dititik terlemah ini.
Ketika kita sangat membutuhkan pertolongan Allah akan menguji dengan pertolongan itu, ini yang jarang kita menyadarinya.
Ketika kita siap menghadapi ujian dan Allah memberikan ujian itu, mungkin kita sudah siap, namun ketika kita sedang marah kemudian kita diuji dengan kesabaran banyak yang gagal dalam ujian itu.
Jadi bersiap-siaplah ujian itu bukan hanya bagi yang sudah siap, namun bagi yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk tegak berdiri pun berlaku juga ujian Allah itu. Dan insyaAllah harum surga akan tercicipi bila kita lulus dalam ujian itu. amiin