right_side

Terkumpul

Tampilkan postingan dengan label Disekitarku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Disekitarku. Tampilkan semua postingan
In:

pindah alamat

saya memindahkan alamat blog saya menjadi HTTP://MASICANG.BLOGSPOT.COM

mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih atas perhatian semua. silahkan berkunjung ke alamat yang baru.


Add to Technorati Favorites

In:

Essensi Qurban

Saya menyebutnya sudah benar apa belum ya "essensi" apa enakan hakikat saja yah?



QURBAN


atau lebih tepatnya dalam bahasa kita "korban". menurut sejarah yang diceritakan Allah dalam Quran sejarah Qurban itu dimulai sejak Allah memerintahkan Nabiullah Ibrahim untuk menyembelih putra satu2nya kala itu dan menjadi kesayangannya. Dan kemudian Allah menggantinya dengan domba yang sampai sekarangpun tradisi itu masih dijunjung dan dilaksanakan oleh umat islam sesuai kaidah dan syarat yang ditentukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.



Tapi sebagai pelaku sunnah dan pengikut tradisi itu mungkinkah kita merasa ada yang kurang dari hanya sekedar seremonial tersebut. syarat yang kita penuhi insyaAllah sudah sesuai syariat.niat yang kita panjatkan insyaAllah adalah untuk Allah. tapi makna atau essensi dari berkurban itu apkah sudah terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari kita apa belum?



Karena dikehidupan sehari-hari kita ada banyak pengorbanan-pengorbanan yang tidak bisa kita laksanakan sebagaimana kita berkurban dihari Qurban, mungkin penyembelihan hewan qurban telah hanya menjadi simbol saja bahwa kita ummat islam yang menjalankan sunnah. tapi implementasi dari essensi qurban itu tidak pernah kita dapatkan.yang kita tahu pokoknya pada hari itu kita makan daging.



Dikehidupan sehari-hari kita masih sangat berat untuk berkorban, mengorbankan hak kita untuk kebutuhan yang lebih membutuhkan. Dikehidupan sehari-hari kita masih sangat berat untuk kehilangan sesuatu yang kita sayangi, sesuatu yang begitu berharga untuk kita.padahal dengan adanya hari Qurban Allah mengajar kita bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga dari kita Nabiullooh ibrahim memberi contoh dengan mengorbankan putra tercintanya. walau kita takkan mampu menandingi kehebatan iman beliau,setidaknya ada sedikit essensi dari peristiwa itu di jiwa kita.



Ingat suatu peristiwa Rasulullah Muhammad SAW yang diceritakan disuatu hadits.Suatu saat dikeluarga Beliau hampir tak ada makanan dimeja makan keluarganya. hanya tersisa sekerat roti untuk beliau istri dan putrinya. Saat akan menyantap sekerat roti tersebut Rasul didatangi seorang pengemis yang sedang kelaparan. dengan keikhlasan beliau merelakan satu2nya keratan roti untuk keluarga dan beliau kepada si pengemis yang kelaparan tersebut. itulah essensi yang didapat Rasul dari peristiwa Qurban. "sanggup menerima hilangnya apa yang kita sayangi apa yang berharga bagi kita saat itu dengan keihklasan". itulah essensi berqurban. sudahkah keseharian kita tersinari oleh hikmah peristiwa Qurban tersebut? atau malah kita berebut daging yang notabene kita bukan 8 golongan yang disunnahkan untuk mendapatkan hak tersebut atas daging Qurban.



Semoga apa yang saya renungkan dari kejadian ini menjadi manfaat bagi saya sendiri dan juga bermanfaat bagi yang membaca.waktu itu saya terkesima oleh para panitia yang berbut daging bak harimau menerkam mangsa hingga saya sendiri tak sanggup melihat wajah para fakir itu.



-Renungan saat daging tulang dan darah mengering, saat QURBAN tak ada lagi makna-

-10 Dzulhijjah 1426 H-



Add to Technorati Favorites

In:

Bila Cintamu bukan lagi tujuan

Saya sering tersenyum kecil bila melihat pasangan muda berjalan dipinggir jalan sambil senyum-senyum kecil, si ikhwan dengan gaya sok gengsinya mencoba menahan pandangan ke istri nya dan si akhwat dengan muka memerah memandang mesra muka suaminya. Ada rasa geli disana, pasangan muda yang memang sepertinya pengantun baru itu bertingkah seperti kanak-kanak dan layaknya orang-orang yang sedang dimabuk cinta.
Yah mungkin seperti itulah gambaran kebahagiaan didalam lingkaran pernikahan, mawaddah, sakinah diumbar dengan batas syar`I, rahmat dan barokah tak henti terpancar dari tingkah laku dan tindak-tanduknya. Keindahan luarbiasa, kegamangan yangs erring melanda kaum yang belum menjalaninya. Kasihan deh lo…!
Janji itu akhirnya menemui muaranya, ikatan mitsaqon gholidzoh adalah sarana paling tepat tuk menagih janji yang diutarakan Yang Maha Mencinta. Ada ketentraman disana, ada jaminan rezeki disana, ada jaminan setengah agama disana. Dan yang pasti ada jaminan surge disebuah ikatan suci itu. Namun sayangnya apa yang tersirat dan tersurat itu banyak yang menjadikannya hanya sebagai tempelan hiasan didalam rumahnya, banyak yang menjadikan selayaknya jam dinding yang dipasang diruang tamu.
Cukup sebagai pengingat, dilihat hanya ketika membutuhkan diturunkan ketika baterainya hamper habis. Tidak kawan ikatan itu lebih suci dari dentang waktu, ikatan itu lebih lambat dari detakan jam dinding.
Maka kenapa ketika kulihat pasangan muda itu bercengkerama dengan mesrannya hati ini tertawa geli tawa kagum tawa sumringah. Karena orientasi menikah mereka adalah cinta, cinta tulus hanya kepada Allah. Cinta tanpa perantara yang suci hanya saja sarana yg mereka pilih sangatlah hebatnya. Dalam usia pernikahan cinta adalah tujuan pada awalnya namun ada hal yg lebih besar dari itu yang melandasi terbentuknya cinta.
Tidak kita pungkiri pernikahan adalah usaha tuk menanamkan cinta sehingga menjadikannya sangat indah, namun pada prosesnya cinta akan semakin memudar namun tanggung jawab dan beban yang akan menjadi tujuan.
Tanggung jawab itulah perwujudan cinta sesungguhnya, pada awalnya hal ini tidaklah menjadi topic utama pada awal masa pernikahan karena semua adalah indah, namun tanggung jawab lambat laun akan semakin besar, tanggung jawab yang dipikulkan dipundak sebagai seorang suami, sebagai seorang istri atau kelak sebagai seorang bapak sebagai seorang ibu. Bahkan tanggung ajwab akan lebih ketika mencapai seorang kakek dan seorang nenek.
Tanggung jawab indah yang dipikul bersama, tanggung jawab implementasi cinta kepada keluarga. Akan menjadi sebuah beban yang tak terelakkan. Manusia tercipta bersama dengan beban tergantung bagaimana manusia menganggap beban itu. Apakah beban itu akan dianggap sebagai kewajiban atau aktualisasi diri.
Bila cinta bukan lagi tujuan, bila dunia bukan lagi cita-cita, bila ambisi bukan lagi titik ketololan yang harus dikejar setiap waktu. Bila kesabaran bukan lagi hanya pengias laci dapur, bila surga pada akhirnya sebagai motivasi. Disitulah letak keindahan dan ketenteraman itu berada.
Mari kita berusaha menuju kesana kawan!

Add to Technorati Favorites

In:

arogannya seorang pelayan

“Gimana ini, orang pemerintahan kok malah menyepelekan rakyat..?”
“ada yang mau minta dilayani malah ngobrol sendiri”
“saya ini mau ada urusan pajak kok malah yg diobrolin tentang arisan, kreditan, tanaman, ngga jelas......”
“saya kenal dengan orang DPRP komisi D lho…kalau saya mau bisa saya adukan ini”
Wah tiba-tiba kalimat itu nrocos saja dari bibir seorang WP yang merasa tidak dilayani dengan baik oleh salah satu “pelayan” dikantor ini. Entah dari mana asalnya ketika kududuk di aula bagian penerimaan untuk melepas penat sebentar.
Saya hanya mendengarkan “curhatan” WP satu ini, karena orang dalam keadaan begini maunya hanya didengar dan diperhatikan. Akhirnya walau bukan bagian saya, saya bantu bapak ini unutk menyelesaikan apa yg sedang diributkannya.
Tak lama berselang senyum mengembang dimulutnya, setengah bercanda dia bilang.
“ngga jadi deh mau saya adukan instansi ini”
“yah kan diadukan juga gimana pak. Bapak kan baru masuk di satu ruangan”\jawab saya sambil tak kalah lebar senyumannya......hehhe
“ya udah pak...terima kasih, siapa nama bapak? Lain kali saya ketemu bapak saja”
“nama saya (sambil saya liatin name tag saya), terima kasih pak atas kesabaran bapak, lain kali ketemu saya juga ndak apa-apa pak tapi alangkah baiknya kalau bapak ketemu dengan petugas yang sesuai dengan urusan yang sedang bapak hadapi saja.” Jawab saya.
“karena tidak semua ilmu Pajak saya kuasai sepenuhnya.”
Sebelum pergi bapak itu mengucapkan salam, untung tidak disertai “menyelempitkan” secarik amplop. Karena selama ini bila kita sedikit memberikan pelayanan hal klasik akan terjadi yaitu secarik amplop menyertai. Dan itu adalah kondisi yg membuat saya dilemma. Disatu pihak ada keinginan untuk menerima (jujur saya juga suka uang), di lain pihak kode etik kita sebagai pelayan akan tercoreng (ini lebih munafik lagi kali ya….)
Namun itulah fenomena yg terjadi disekitar lingkungan instansi kita “tercinta”. Dan fenomena itulah yg berusaha tidak akan saya bicarakan. Karena fenomena yg kompleks tidak selayaknya hanya dibahas dalam satu sudut pandang yang naïf ini.
Sudah sekitar 3 bulan ini penagihan tidak mendapatkan seorang JSPN, sehingga saya yg sebetulnya di subsie TUPP harus merangkap menjadi pjs JSPN. Dan menelusuri sudut kota hanya tuk menyampaikan sebuah surat, yang kebetulan ketika membaca judulnya sudah akan memberika reaksi keras kepada si penerimanya. Namun dari pengalaman dilapangan itulah saya dapat banyak sudut pandang dan opini tentang Pajak dan aparat pajaknya. Ada yang baru denger nama kantor Pajak saja langsung memasang muka masam. Bahkan ada yang segera menutup pintu sampai melepas ikatan leher anjingnya.
Citra Pajak dimata masyarakat sudah terlanjur “kepleset”, kayaknya Pajak itu adalah musuh masyarakat yang akan selalu merongrong harta mereka.Sedang hokum Pajak adalah bisa dipaksakan, namun dalam pelaksanaannya bila terjadi maka citra Pajak akan semakin buruk. Sehingga langkah persuasife adalah lebih manjur. Peninggalan Pajak yang arogan harus ditinggalkan.
Ditambah fenomena di kantor Pajak diatas, keluhan yang memang mendasar dari salah seorang WP yang merasa tidak dilayani dengan seharusnya. Semakin menambah citra buruk yg disandang aparat Pajak. Jadi jangan bangga dulu bila anda menyandang instansi Pajak di name tag anda, itu adalah beban di masyarakat. Tanggung jawab anda sekarang adalah mengubah citra itu menjadi pelayan Negara yang baik dan persuasife.
Status anda bukan pegawai, anda adalah pelayan. Kewajiban anda adalah kepada rakyat dan hak anda adalah jaminan negara.



Add to Technorati Favorites

In:

Gladi Resik Kematian

Tragedi yang terjadi dibelahan selatan pulau jawa sekarang tinggal menyisakan puing-puing kesedihan, apakah bencana itu sekiranya peringatan, cobaan atau adzab yang diberikan Allah kepada makhluknya? Sangatlah sekuler kiranya manusia apabila tidak menghubungkan bencana itu dengan Kehendak Allah, dan hanya mengait-ngaitkan dengan faktor alam. Memang betul alamlah sarananya yang dengan ilmu yang diturunkan Allah padanya. Maka alam itu dapat dibaca gejala dan kejadiannya. Tapi tidaklah seharusnya kita memisahkannya dari Rencana Allah.

Dari tragedi bencana itu korban yang berjatuhan yang tidak mungkin disaring mana yang paling beriman maka akan mendapat kehilangan yang paling sedikit, dan mana yang lebih kufur akan mendapat kehilangan yang lebih banyak. Semua menyatu dalam satu kesatuan bencana. Laksana seorang pedagang yang membeli berkarung-karung jeruk, dia tak akan memilih lagi mana jeruk yang busuk dan mana jeruk yang bagus. Semua ada dalam satu kesatuan 1 ton jeruk.

Dimalam itu, dimalam sebelum bencana melanda, dimalam ketika lentikan jari Allah belum menunjuk ujung selatan jawa, Samsul berusaha untuk memejamkan mata setelah melewati 4 hari libur panjang bersama keluarganya. “mas Shalat isya` dulu mas !” pinta istrinya, “aaaaaggghhh” menggeliat tangan samsul , tapi ya hanya menggeliat. Akhirnya lewat waktu isya` “mas Shalat subuh mas!” pinta istrinya lagi setelah isya` tak lagi terlaksana. “agghhhh” lagi-lagi jawaban itu yang diterima istrinya.

“Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar “ terkejut samsul oleh teriakan istrinya, terbangun dari tidurnya kepalanya terasa pusing dirasanya atap rumahnya bergoyang, tapi atap rumah itu bergoyang bukan karena pusingnya tapi karena sudah waktunya lentikan jari Allah menunjuk daerah itu untuk bergoyang. Dengan serta merta diraihnya anis anak perempuan semata wayangnya dan digeretnya istri tercintanya tuk keluar dari rumah, selang beberapa detik rumah kecil yang memang mau rubuh itu akhirnya rubuh juga.

Menunduk tertegun samsul menyaksikan rumahnya ambruk, tapi begitu bersyukurnya ketika disaksikan tak seorangpun terluka dari anggota keluarganya, ditanyanya istrinya, bergilir anis anak perempuannya. Semua mengangguk tanda tak terluka parah atau kesakitan.Dalam tertegun itu teringat kembali semua apa yang dilakukan samsul sebelum kejadian itu,

1 menit bagi manusia terasa sangat lama ketimbang 1 menit bagi ketakutannya, bagi rasa ngerinya. Apa yang dirasa dalam 1 menit bagi ketakutannya terasa begitu menyesakkan, bahkan 1 menit itu semua memory akan terekam dengan sangat jelas, masih sempurna dalam ingatannya 1 menit ketakutannya itu bagaimana dia melompat merangkul anis anak perempuannya, bagaimana dia merasakan betul dinginnya tangan istrinya saat 1 menit ketakutannya membuat dia sekecil debu diatas bumi Allah ini.

Terngiang dalam telinganya sentuhan istrinya saat membangunkan untuk shalat subuh dan apa yang diberikannya hanya geliatan dan auman malas. Isya` lewat, subuh apalagi.
Adzab kah? Peringatan kah ? yang diberikan Allah kepadaku guman samsul. Tapi Allah memang sedang memberikan gladi resik kepadaku, memberikan gambaran bagaimana rasa ngerinya saat kematian menjelang, Allah memberikan latihan tentang ketakutan yang akan terjadi saat sebenar-benar maut akan menjemput, sebuah gladi resik kematian gumam samsul.
Teringat dia akan kelalaiannya, shalat yang penuh lubang, puasa yang sangat jarang, dan hanya dunia yang dia sempatkan. Dengan serta merta samsul bersimpuh mengumbar semua janjinya, yang bisa jadi janji itu adalah titik balik peningkatan imannya, dan ikrar kesanggupannya untuk menjadi hamba yang lebih taat.

Yang pasti dalam dada samsul dia merasa Allah berusaha menyampaikan pesanNYA dalam gladi resik kematian itu,yaitu
1. Allah menggambarkan bahwa ketika kematian menjemput , semua manusia akan menjadi sangat individual, dia tak akan memikirkan orang lain lagi, dalam 1 menit itu yang ada dalam dada samsul hanya ketakutan dan kengerian.
2. ini baru gladi resik piker samsul, bagaimana seandainya kematian samsul tidak di “pre memory” oleh Allah. Bagaimana seandainya didalam 1 menit itulah seharusnya waktu samsul tuk berjumpa dengan malaikat maut, alangkah menyesalnya samsul…karena tidak ada lagi waktu bertobat atas kelalaiannya meninggalkan shalat.
3. samsul merasa bukanlah apa-apa di bumi Allah ini, bila Allah mengguncang bumi dengan seguncang-guncangnya, maka gunung akan tampak seperti anai-anai yang berterbangan, apalagi samsul yang hanya semata manusia, setitik debu dibandingkan gunung. Menyadarkan samsul bahwa dia hanya setitik manusia dalam jutaan metric luas alam.

Begitulah samsul diperingatkan oleh Allah dengan gladi resik gambaran kematian yang ditampakkan didepan matanya, dan bagi samsul itulah campur tangan Allah dalam hidupnya, alam hanyalah cabang ilmu yang diturunkan Allah utnuk dicermati bukan untuk dipisahkan dari kekuasaan Allah.

Semoga kisah samsul ini memberikan gambaran betapa Kekuasaan Allah sangatlah besar atas kita. Dan Allah adalah Maha penyayang atas makhluknya.


Add to Technorati Favorites

In:

Belajar menganalisis

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
NAMA : FAHRIZAL ARDHI NUGROHO
NPM : 07019002
MATA KULIAH : Manajemen Pemasaran 2
Dosen : Indriati AG.Ir.MM
Keterangan : Tugas ke 3 pertemuan ke 4 tanggal 17 April 2008

Sebagai warga Lampung seberapa terganggu saya dengan Spanduk Baliho dan reklame?

Pilgub sebentar lagi digelar, acara warga kota Lampung ini sekiranya baru akan dilaksanakan pada bulan Oktober. Namun gebyar dan semaraknya begitu kentara dipenjuru kota. Ditandai dengan dimulainy perang baliho antar bakal calon Gubernur yang diusung berbagai kepentingan dikota.
Yang memprihatinkan pemasangan baliho dan pengumuman ini tidak lagi memperhatikan ketentuan yang telah ditetapkan Pemda melalui Perda-perdanya. Nahkan terkesan pemasangan baliho ini mengganggu keindahan kota dan keselamatan para pengguna jalan. Bahkan menurut Perda kawasan bebas reklame pun menjadi lahan subur pemasangan muka-muka bakal calon Gubernur dan kepentingan yang mengusungnya. Seperti kawasan perkantoran, taman kota dan dibanyak median jalan tak luput dari pemasangan baliho tersebut. Tak jarang ditemui pula kepoentingan berupa bendera partai atau LSM pengusungnya.
Bahkan pernah di dapati dipagar sebuah sekolahan menjadi arela subur pemasangan reklame atau baliho ini baik itu untuk kepentingan Pilkada atau komersial. Kalau diperhatikan di jalan-jalan protocol kota Bandar Lampung reklame dan baliho ini seperti mendapatkan passing carduntuk memasang seenaknya, bagaimana dijalan arteri atau jalan-jalan tikus? Lebih parah, baliho dan reklame bahkan sering didapati memakan bahu jalan dan mengganggu kendaraan yang lewat. Bahkan lebih cenderung membahayakan dengan tidak mengindahkan unsur keselamatan pengguna jalan. Meletakkan nya diatas bahu jalan sehingga sewaktu-wakyi bisa saja putus dan menjatuhi pengguna jalan yang kebetulan sedang lewat.
Penempatan spanduk, reklame dan pamflet secara semrawut di sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik lainnya itu patut disesalkan. Berdasarkan SK Wali Kota No.22/2004, kawasan perkantoran pemerintah, tempat pendidikan, taman kota, Bundaran Gajah, Bundaran Raden Intan dan sejumlah tempat lainnya merupakan kawasan "terlarang" untuk pemasangan reklame dan spanduk, apalagi atribut partai berupa bendera yang kerap kali mewarnai kota Bandar Lampung akhir-akhir ini.

Selain SK tersebut, Perda No. 8/2000 tentang Pembinaan Umum, Ketertiban, Keamanan, Kebersihan, Kesehatan dan Keapikan dalam Wilayah Kota Bandar Lampung, juga membatasi ruang pemasangan spanduk dan atribut partai di sejumlah ruang publik dan fasilitas umum.
Seperti tercantum dalam Bab III Pasal 15 Perda No. 8/2000, Pemkot melarang warganya untuk memasang spanduk dengan cara melintang pada jalan umum atau tempat-tempat yang dipandang mengganggu pandangan umum, keindahan dan keselamatan pemakai jalan.
Pemasang reklame/iklan pada trotoar dan persimpangan jalan yang dapat mengganggu jarak pandang pengendara dan kenyamanan berlalu lintas juga dilarang.
Setiap pelanggaran atas perda tersebut akan dikenakan sanksi mulai dari peringatan sampai pidana. Berdasarkan Pasal 26 Perda No. 8/2000, barang siapa yang melanggar ketentuan-ketentuan atau tidak mengindahkan larangan-larangan yang diberikan dan atau tidak menaati kewajiban dalam perda tersebut, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya enam bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5 juta, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jika waktu melakukan pelanggaran belum lampau satu tahun sejak pelanggar dihukum dengan keputusan yang tidak dapat diubah lagi karena perbuatan yang sama, hukuman tersebut dapat digandakan.
Ancaman pidana sebagaimana dimaksud pasal ini berlaku juga bagi aparat atau petugas pelaksana.
Sudah jelas dengan peraturan yang telah ditetapkan, namun pelanggaran yang jelas-jelas didepan mata malah dibiarkan. Apa yang terjadi dengan dinas tata kota, kota ini? Sedang tidurkah? Peraturan itu dibuat dengan kebijakan yang pasti menguntungkan dan melindungi pemakai jalan. Namun ketika peraturan itu dilanggar konsekuensi yang jelas adalah keindahan kota yang terganggu terutama keselamatan pengguna jalan yang tidak terjamin lagi.
Sehingga apa yang sering ditakutkan para pengguna jalan akan semakin terbukti dan pada kenyataannya hal yang dikhawatirkan itu telah terjadi dan merenggut seorang nyawa pengguna jalan.
Bila ditanyakan apakah spanduk reklame dan baliho itu mengganggu? Jawabannya jelas mengganggu.
Sumber : www. LampungPost.com



Add to Technorati Favorites